Wasiat Rasulullah
Sungguh
beruntung orang yang menghiasi hidupnya dengan Sunnah-Sunnah yang dicontohkan
oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Sungguh bahagia orang yang menjadikan
petuah dan wasiat Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai panduan hidupnya. Berikut ini
adalah sebagian dari wasiat yang pernah disampaikan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada para Sahabatnya صلى الله عليه وسلم . Sebuah wasiat yang singkat namun sarat
makna serta menyentuh hati. Wasiat yang menghimpun kebaikan dunia dan akhirat
dengan sempurna.-Red.
Dalam
Musnad Imam Ahmad dan Sunan Ibnu Majah juga para Imam lainnya
terdapat hadits dari Abu Ayyub al-Anshari رضي الله عنه. Dalam hadits itu diberitakan bahwa ada
seorang laki-laki mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم lalu mengatakan:
عِظْنِى وَأَوْجِزْ وفي روايه عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ: إِذَا
قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ
تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ مِـمَّا فِي أَيْدِي
النَّاسِ
"Berilah
aku nasehat dengan ringkas! (dalam riwayat lain) Ajarilah
aku dengan ringkas! Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, 'Jika kamu
berdiri hendak melaksanakan shalat, maka shalatlah sebagaimana shalat orang yang
pergi selamanya; Janganlah kamu mengucapkan satu perkataan yang kamu akan
meminta maaf karenanya pada esok harinya; bertekadlah untuk tidak mengharapkan
apa yang dimiliki
orang lain." (HR. Imam Ahmad, no. 23498 dan Ibnu Majah, no. 4171. Lihat
as-Shahihah, no. 401)
Hadits
ini adalah hadits hasan dengan banyaknya syawahid (pendukung). Hadits
agung yang singkat ini berisi tiga wasiat yang menghimpun semua kebaikan, dunia
dan akhirat. Barangsiapa memahaminya lalu mengamalkannya, maka dia akan meraih
semua kebaikan, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Wasiat
Pertama,
Wasiat tentang shalat agar kaum Muslimin memberikan perhatian ekstra dan
menunaikannya dengan benar.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم dalam hadits di atas mengajak setiap orang
yang hendak melaksanakan shalat agar dia mengerjakannya dengan
bersungguh-sungguh sebagaimana orang yang mengerjakan shalatnya yang terakhir,
dia tahu dirinya tidak bisa lagi mengerjakan shalat setelah itu. Jika seseorang
yang mengerjakan shalat merasa bahwa itu adalah shalat terakhir yang bisa
dilakukan, dia tidak bisa mengerjakan shalat setelah itu, maka pasti dia akan
bersungguh-sungguh. Dia pasti akan mengerjakannya dengan baik dan benar, dia
pasti akan berusaha menyempurnakan semua rukun-rukunnya, seperti ruku' dan
sujudnya juga hal yang diwajibkan atau bahkan hal-hal yang disunnahkan
tidak akan ditinggalkan sedikit pun.
Oleh
karena itu, semestinya setiap orang yang hendak melaksanakan shalat mengingat
wasiat Rasulullah صلى الله عليه وسلم ini dalam setiap shalat yang sedang dia
lakukan. Barangsiapa melaksanakan shalat dengan baik dan benar, maka shalat
tersebut akan memandu dan membimbingnya kepada semua kebaikan dan keutamaan. Dan
shalat seperti itu akan menjadi penyejuk mata (penenang baginya) dan
mendatangkan kebahagiaan.
Wasiat
Kedua,
Wasiat agar menjaga lisan.
Lisan
manusia termasuk anggota badan yang paling berbahaya. Jika sebuah kalimat atau
ucapan belum keluar dari mulut seseorang, maka
itu
artinya si pemilik lisan
masih bisa mengendalikan kalimat yang belum terucap tersebut dan ia menjadi
penguasa baginya. Namun jika suatu kalimat atau perkataan sudah terlontarkan
dari lisan,
maka kalimat yang terucap itu akan menjadi penguasa atas si penguacap dan dia
akan memaksanya untuk menanggung resiko ucapannya
tersebut.
Sabda
Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا
Janganlah
kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok
harinya.
Artinya,
bersungguh-sungguhlah dalam menahan lisanmu agar
tidak
mengucapkan perkataan yang kamu khawatir harus
meminta maaf karenanya di kemudian hari. Selama Anda belum mengucapkan kalimat
atau perkataan itu, berarti anda masih memegang kendali, tapi jika sudah
diucapkan oleh lisan,
berarti ucapan itulah yang memegang kendali atas diri
anda.
Dalam
wasiat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang lain kepada Mu'adz bin Jabal رضي الله عنه:
أَلَا أُخْبِرُكَ بِـمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قَالَ: بَلَى يَا نَبِيَّ
اللَّهِ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا، قَالَ: يَا نَبِيَّ
اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِه؟ِ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ
أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ
قَال: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
Maukah
engkau aku beritahu kunci dari semua itu? (Mu'adz mengatakan-red) aku
mengatakan, "Tentu wahai Rasulullah." Rasulullah صلى الله عليه وسلم memegang lidahnya secara bersabda,
"Tahanlah ini!" (Mu'adz mengatakan-red) aku mengatakan, "Wahai Nabi Allah!
Apakah kita akan disiksa dengan sebab ucapan yang kita ucapkan?" Rasulullah
صلى الله عليه وسلم menjawab, "Wahai Mua'dz, kasihan sekali
kamu! Adakah sesuatu yang menyebabkan seseorang tersungkur wajahnya di neraka
selain dari ucapan-ucapan lisan
mereka (HR. Ahmad, no. 22016; at-Tirmidzi, no. 2616 dan hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahihul Jami', no.
5136).
Jadi
lisan
itu sangat berbahaya. Dalam sebuah hadits dari Shahabat Tsabit, Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda;
إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ
اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ
اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا
"Jika
Bani
Adam memasuki waktu pagi, maka seluruh anggota badan manusia tunduk kepada Lisan
lalu mereka mengatakan, 'Bertakwalah kalian dalam urusan kami, karena kami
selalu
bersama
kamu. Jika anda lurus, maka kami
juga
lurus dan jika anda bengkok, maka kami
juga
bengkok. (HR. Ahmad, no. 11908 dan at-Tirmidzi, no. 2407 dari hadits Sa'id
al-Khudri. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani)
Sabda
Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا
Janganlah
kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta maaf karenanya pada esok
harinya.
Dalam
potongan kalimat ini, terdapat seruan, ajakan dan himbauan untuk selalu
introspeksi diri dalam masalah ucapan-ucapan yang terlontar dari Lisan,
hendaklah
kita merenung sebelum berucap, jika kita memandang ucapan itu mendatangkan
kebaikan, maka ucapkanlah! Namun jika ucapan yang akan kita katakan itu buruk,
maka hendaklah dia menahan diri. Jika tidak tahu, apakah ucapan itu baik atau
buruk? Maka sebaiknya menahan diri dan tidak mengucapkannya sampai kita
benar-benar mengerti tentang ucapan yang akan kita ucapkan tersebut. Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا
أَوْ لِيَصْمُتْ
Barangsiapa
beriman kepada Allah dan Hari
Akhir,
maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam (HR. Al-Bukhari,
no. 6018 dan Muslim, no. 47 dari hadits Abu Hurairah رضي الله عنه )
Namun
banyak orang yang membiarkan atau membebani dirinya dengan banyak bicara dan
tidak mau ambil pusing dengan pembicaraannya, akhirnya dia harus menanggung
resiko buruk dari ucapannya di dunia dan akhirat.
Sebagai seorang yang berakal sehat mestinya seseorang harus menimbang-nimbang
ucapan yang akan dilontarkan dan memelihara lisannya dari ucapan-ucapan yang
tidak bermanfaat atau tidak layak sehingga perlu meminta maaf di waktu yang akan
datang.
Sabda
Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا
Janganlah
kamu mengucapkan suatu kalimat yang kamu akan meminta
maaf karenanya pada esok harinya
Kata
"besok" dalam hadits di atas bisa jadi maksudnya Hari Kiamat, yaitu disaat kita
harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan anggota badan kita di hadapan
Allah
عزّوجلّ, atau bisa jadi maksudnya adalah besok hari
yakni di dunia saat banyak orang yang menuntut konsekuensi dari ucapan
kita.
Wasiat
Ketiga,
wasiat agar qana'ah, menggantungkan hati hanya kepada Allah
عزّوجلّ semata dan sama sekali tidak mengharapkan
apa
yang
dimiliki orang lain.
Rasulullah
صلى الله عليه وسلم bersabda:
وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ مِـمَّا فِي أَيْدِي
النَّاسِ
Bertekadlah
untuk tidak mengharapkan apa yang dimiliki orang lain.
Maksudnya
fokuskan hatimu! Bertekadlah untuk tidak mengharapkan apa-apa yang dimiliki
orang lain. Janganlah Anda mengharapkan apapun dari mereka! Hendaklah Anda
berharap hanya kepada Allah عزّوجلّ semata! Sebagaimana lisan kita yang hanya
meminta dan memohon kepada Allah عزّوجلّ semata, maka begitu
juga
bahasa tubuh kita yang lain, hendaknya hanya meminta dan memohon serta berharap
kepada Allah semata. Kita memutus semua
harapan dan ketergantungan hati kita dari semua orang lalu kita arahkan
ketergantungan hati kita hanya kepada Allah
عزّوجلّ. Dan shalat yang dilakukan oleh seseorang
merupakan sarana terbesar dalam merealisasikan semua yang menjadi
keinginan.
Orang
yang tidak menaruh harapan kepada semua yang dimiliki orang lain, maka dia akan
hidup mulia dan berwibawa, sebaliknya orang yang selalu mengharapkan apa yang
dimiliki orang lain, maka hidupnya akan terhina.
Orang yang hatinya senantiasa bergantung
kepada Allah عزّوجلّ
dalam segala keadaan, dia tidak berharap kecuali kepada Allah, tidak
meminta kecuali kepada Allah juga tidak bertawakkal kecuali kepada-Nya, maka
pasti Allah عزّوجلّ
akan memenuhi kebutuhannya di dunia dan di akhirat. Allah عزّوجلّ
berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
Bukankah
Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. (QS.
Az-Zumar/39:36)
Juga
berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ
بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan
barangslapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS.
Ath-Thalaq/65:3)
Inilah
tiga wasiat singkat Rasulullah صلى الله عليه وسلم namun sarat dengan makna. Semoga Allah
عزّوجلّ
memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa melakukan dan
melaksanakan wasiat Rasulullah صلى الله عليه وسلم ini.[]
Sumber: Ebook Ringkasan Syarah Hadits Arba'in
0 komentar:
Posting Komentar