Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 April 2020
Minggu, 19 April 2020
Senin, 28 Oktober 2019
Tuntunan Pemberian Nama
Nama-nama yang diharamkan dalam syariat adalah nama-nama berikut:
- Para ulama sepakat mengenai haramnya memakai nama yang mengandung makna penghambaan diri kepada selain Allah, seperti Abdul ‘Uzza, Abdusy Syams (hamba matahari), Abdud Daar, Abdur Rasuul, Abdun Nabi dan lain-lain. Diriwayatkan dari Hani bin Zaid bahwa ketika ia datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan beserta kaumnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar mereka memanggil salah seorang di antara mereka dengan nama Abdul Hajar (hamba batu). Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Siapa namamu?” Ia menjawab, “Abdu hajar.” Beliau bersabda, “Tidak, kamu adalah Abdullah (hamba Allah) bukan Abdu Hajar (hamba batu)!” (lihat kitab Shahihul Adabil Mufraad, halaman 623)Termasuk pula dalam hal ini adalah pemberian nama Abdul Haarits, karena al-Hariits adalah manusia. Adapun “Haarits” itu sendiri bukanlah nama Allah. Yang ada adalah Allah disifati dengan adz-Dzaari’ (menanam, menumbuhkan) dann itu bukan termasuk nama Allah.أَفَرَأَيْتُم مَّا تَحْرُثُون أَأَنتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkan atau Kami-kah yang menumbuhkan.” (QS. Al-Waaqi’ah: 63-64)
- Memberi nama dengan nama-nama Allah, seperti ar-Rahman, ar-Rahiim, al-Khaliq dan al-Bari.Syaikh Utsaimin memiliki penjelasan yang bagus berkenaan memberi nama dengan nama Allah Ta’ala. Pemberian nama ini memiliki dua sisi:Sisi pertama, terbagi menjadi dua macam:
- Penyebutan nama dengan huruf alif dan lam. Yang dimikian tidak boleh diberikan kepada selain Allah, seperti al-‘Aziz, as-Sayyid, al-Hakiim dan lain-lain Alasannya karena dengan adanya penambahan alif dan lam berarti menunjukkan kepada ushul dari makna yang terkandung dalam nama tersebut.
- Maksud pemberian nama untuk menunjukkan sifat yang terkandung dalam nama tersebut walau tanpa alif dan lam. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengganti kunyah Abu Hakam karena teman-temannya selalu minta putusan hukum kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya Allah adalah al-Hakam dan hanya Dia-lah yang berhak menetapkan hukum.” Lalu beliau memberi kunyah dengan nama anak sulungnya yang bernama Syuraih. Ini menunjukkan apabila seseorang memiliki nama dengan salah satu dari nama Allah yang mengandung makna sifat (sengaja disesuaikan dengan sifat, pekerjaan atau keadaan penyandang nama), maka hal itu dilarang syariat.
Sisi kedua:Menamai dengan nama-nama Allah tanpa didahului alif dan lam dan tidak bermaksud menyesuaikan dengan makna sifat yang terkandung dalam nama tersebut. Hal ini dibolehkan seperti nama Hakiim. Di antara sahabat ada yang bernama Hakiim bin Hizam. Seorang sahabat yang pernah dinasehati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan kamu menjual sesuatu yang bukan milikmu.”Tetapi ada nama Allah lainnya yang tidak pantas dijadikan sebagai nama manusia, seperti Jabbar, meskipun tidak bermaksud menetapkan makna sifat yang terkandung dalam nama tersebut. Karena bisa jadi nama itu mempengaruhi diri orangnya sehingga dirinya menjadi orang yang sombong, angkuh dan takabbur terhadap orang lain. (Al-Majmu’ Ats-Tsamiin (I/144)) - Memberi nama dengan nama Malikul Muluk (Rajanya Raja), Sulthanus Salathin dan Syahin Syah.أَغْيَظُ رَجُلٍ عَلَى اللهِ يَومَ الْقِيَامَتِ وَ أَخْبَثُهُ وَ أَغْيَظُهُ عَلَيْهِ رَجُلٌ كَانَ يُسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ لاَ مَلِكَ إِلاَّ اللَّهِDalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling dimurkai Allah nanti pada hari kiamat yang paling keji dan yang paling dibenci-Nya adalah laki-laki yang bernama Malikul Amlak. Sesungguhnya tiada raja yang haq selain Allah subhanahu wa ta’ala.”Semakna dengan nama di atas adalah Qadhi Qudhaat, Haakimul Hukkam (artinya, hakim dari para hakim).
- Memberi nama dengan Sayyidun Naas, Sayyidul Kul, Sittul Kul sebagaimana diharamkan memberi nama dengan nama Sayyidu waladi Adam untuk selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Memberi nama dengan nama berhala yang disembah seperti Isaaf dan Naailah.
- Memberi nama dengan nama orang-orang non arab yang menjadi ciri khas orang kafir, seperti George, Diana, Ros, Suzan dan lain-lain.
- Memberi nama dengan nama-nama setan, seperti Khinzab, Walhaan, A’war, Ajda’. Demikian disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah.Syaikh Bakr Abu Zaid juga mengharamkan nama-nama orang non arab, seperti Turki, Farsi, Barbar dan nama-nama lain yang sulit diucapkan oleh lisan arab, seperti Naariman, Syiirihan, Niifiin, Syiiriin, Syaadi (monyet) dan lain-lain. Namun menurut penulis, nama-nama itu hukumnya makruh kecuali jika berkeyakinan bahwa nama tersebut lebih baik daripada nama-nama kaum muslimin. Wallahu a’lam.
Sumber https://muslimah.or.id/
Ringkasan Syarah Hadits Arba'in (Hadits Ke-19)
MINTA TOLONGANLAH KEPADA
ALLAH
عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمَا قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَوْماً، فَقَالَ: يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّـمُكَ كَلِـمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ
يـحفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ
وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَـمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ
اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَـمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ
قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ
لَـمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ
اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ. رواه الترمذي وقال: حديث حسن
صحيـح
وفي رواية غير الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ
إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَـمُ أَنَّ مَا
أَخْطَأَكَ لَـمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَـمْ يَكُنْ لِيـخطِئَكَ،
وَاعْلَـمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ
وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas rodhiyallohu ’anhuma beliau berkata: Suatu hari aku
berada di belakang Nabi shollallohu
‘alaihi wasallam Lalu beliau bersabda , “Nak, aku akan ajarkan kepadamu
beberapa patah kata: Jagalah Alloh, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila
engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Alloh, dan bila engkau meminta
pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh. Ketahuilah, jika semua umat
manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka
tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh
bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya
mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh
Alloh bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.” (HR
Tirmidzi Dia berkata , “Hadits ini hasan shohih”)
Dalam riwayat selain Tirmidzi dengan redaksi: “Jagalah Alloh, niscaya
engkau akan senantiasa mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Alloh di waktu
lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan, ketahuilah bahwa apa yang
ditetapkan luput darimu tidak akan pernah menimpamu dan apa yang telah
ditetapkan menimpamu tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan
itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi cobaan dan
kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan.”
Status Hadits
dan Takhrijnya
Shahih:
HR. at-Tirmidzi (no. 2516), Ahmad (I/293, 303, 307), dan
selainnya.
Kedudukan Hadits
Hadits ini sangat agung karena memuat wasiat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang sangat
penting.
Menjaga Alloh
Menjaga Alloh adalah dengan cara menjaga hak-hak-Nya. Hak-hak Alloh ada dua macam, yaitu hak-hak yang wajib dan
hak-hak yang sunnah. Dengan menunaikan kewajiban, dan memelihara sunnah berarti
telah menjaga Alloh. Menjaga Alloh dalam batasan yang wajib yaitu menegakan
tauhid, dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Lebih dari itu
adalah sunnah. Manusia berbeda-beda derajatnya dalam menjaga
Alloh.
Penjagaan Alloh
Penjagaan Alloh terhadap manusia terwujud dalam dua bentuk,
yaitu:
1. Menjaga urusan dunianya, dalam bentuk menyehatkan badanya,
melapangkan rezekinya, menjaga anak dan istrinya, dan lain-lain.
2. Menjaga urusan agamanya. Poin ini lebih penting dan lebih bernilai
dari pada poin sebelumnya. Bentuk penjagaannya berupa: hatinya bersih dari
kotoran syubhat, senantiasa terikat dengan Alloh, penuh rasa harap kepada-Nya,
senantiasa bertaubat kepada-Nya, dan anggota badanya terbebas dari
memperturutkan hawa nafsu.
3. Melalaikan menjaga Alloh dapat berakibat hilangnya penjagaan Alloh
terhadap dirinya.
Hanya Meminta Kepada Alloh
Hukum meminta hanya kepada Alloh ada dua macam:
1. Wajib, yaitu meminta sesuatu yang tidak bisa melakukannya kecuali
Alloh. Inilah tauhid dalam meminta di mana jika dipalingkan kepada selain Alloh
hukumnya syirik.
2. Sunnah, yaitu dalam hal yang manusia mampu untuk melakukannya dan dia
mampu melakukan sendiri tanpa bantuan.
Tawakal
Makna tawakal kepada Alloh adalah mengambil sebab yang diperintahkan
kemudian menyerahkan urusannya kepada-Nya. Tawakal kepada Alloh merupakan wujud
keimanan yang sangat penting, bahkan merupakan wujud keimanan para nabi. Dan
tawakal kepada makhluk adalah perbuatan yang sangat tercela. Sekalipun makhluk
mampu untuk melakukan apa yang kita inginkan, kita tidak boleh bertawakal
kepadanya.
Sabar dan Ridho
Sabar, khususnya ketika mendapatkan kesulitan adalah menjaga hati
dari menggerutu, menjaga lisan dari berkeluh kesah dan menjaga diri dari
perbuatan yang terlarang. Ketika tertimpa musibah, di samping wajib untuk
bersabar, juga disunahkan untuk ridho bahkan jika mampu, bersyukur.
Ridho terhadap musibah adalah yakin bahwa akibat dari musibah
tersebut baik baginya, maka tak ada perasaan seandainya musibah tersebut tidak
datang. Adapun ridho yang hukumnya wajib yaitu ridho terhadap perbuatan Alloh
yang telah mendatangkan musibah. Dengan demikian terkait dengan musibah ada dua
bentuk keridhoan, yaitu:
1. Ridho terhadap perbuatan Alloh, hukumnya wajib.
2. Ridho terhadap musibah itu sendiri, hukumnya sunnah.
Jumat, 25 Oktober 2019
Ringkasan Syarah Hadits Arba'in (Hadits Ke-18)
SETELAH MELAKUKAN KESALAHAN DISUSUL DENGAN
KEBAIKAN
عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ
مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهِ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُـمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ الـحَسَنَةَ تَـمْـحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. رواه
الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيـح
Dari
Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu ’anhuma, bahwa Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wasallam pernah
bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Alloh di mana pun kamu berada, iringilah
kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya dan pergaulilah
semua manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR Tirmidzi. Ia berkata, “Hadits ini hasan”. Dalam naskah lainnya dikatakan, hadits ini hasan
shohih)
Status Hadits
dan Takhrijnya
Shahih:
HR. Ahmad (V/153, 158, 177, 236), at-Tirmidzi (no. 1987), dan
selainnya.
Takwalloh
Makna
takwalloh (takwa kepada Alloh) adalah membuat perisai antara dirinya dengan azab
dan murka Alloh, baik di dunia ataupun di akhirat. Dan perisai yang paling asasi
adalah menegakkan tauhidulloh.
Perintah
untuk bertakwa ditujukan kepada 3 sasaran, yaitu:
1.
Ditujukan
kepada seluruh manusia, maka takwa di sini maknanya adalah menunaikan tauhid dan
membersihkan dari syirik.
2.
Ditujukan
kepada kaum mukminin, maka takwa di sini maknanya adalah melaksanakan ketaatan
kepada Alloh berdasarkan petunjuk Alloh dan meninggalkan kemaksiatan kepada
Alloh berdasarkan petunjuk Alloh.
3.
Ditujukan
kepada seseorang yang sudah bertakwa, maka perintah takwa di sini maknanya
adalah perintah untuk melestarikan ketakwaannya.
Ruang
lingkup Takwalloh meliputi seluruh tempat dan waktu, artinya di manapun dan
kapan pun berada serta dalam kondisi apapun terkena kewajiban takwalloh.
Dengan demikian, sifat takwalloh berbeda-beda sesuai dengan tempat,
waktu dan keadaannya.
Kebajikan Menghapus Keburukan
Kebajikan adalah sesuatu yang mendatangkan pahala, dan keburukan
adalah sesuatu yang mendatangkan dosa atau siksa. Kebajikan yang dapat menghapus
keburukan ada 2 tingkatan, yaitu:
1. Melakukan kebajikan dengan niat untuk menghapus keburukan. Jika
melakukan kebajikan dengan niat menghapus keburukan maka sudah terkandung di
dalamnya penyesalan dan taubat atas kejelekannya.
2. Melakukan kebajikan tanpa adanya niat menghapus keburukan. Kebajikan
seperti ini secara umum akan menghapuskan kejelekannya sesuai dengan kadarnya
masing-masing. Derajat yang ke-2 ini lebih rendah dibanding derajat yang
pertama.
Husnul Khuluq
Husnul Khuluq adalah banyak berderma, tidak menyakiti dan berwajah ceria. Inilah
tafsir Husnul Khuluq kepada sesama manusia. Seseorang mendapatkan Husnul Khuluq
secara thobi’? atau hasil usaha. Seseorang yang melakukan Husnul Khuluq sebagai
hasil dari jerih payahnya lebih besar pahalanya dibanding dengan yang melakukan
karena sudah tabiatnya. Karena kaidah menyatakan, “Jika sesuatu diwajibkan oleh
syariat maka yang lebih mendapatkan kesulitan dalam pelaksanaannya lebih besar
pahalanya. Berbeda dengan apabila sesuatu itu disunahkan, maka tidak secara
otomatis yang lebih mendapatkan kesulitan lebih besar
pahalanya.”
Selasa, 22 Oktober 2019
Ringkasan Syarah Hadits Arba'in (Hadits Ke-17)
|
|||||
Selasa, 01 Oktober 2019
Shalat Yukk
Shalatlah sebelum engkau di Shalatkan
MENUNDA SHOLAT
Ada seorang wanita bertanya kepada'' mufti :"Bagaimana caranya membangunkan anak-anak saya yang sedang tertidur nyenyak untuk sholat Subuh ?" Mufti menjawab dengan balik bertanya kepada wanita tersebut :"Apa yang akan kamu lakukan jika rumahmu terbakar dan pada saat itu anak-anakmu sedang tidur nyenyak ?" Wanita tersebut berkata :"Saya pasti akan membangunkan mereka dari tidurnya." Mufti menjawab :"Bagaimana jika mereka sedang tertidur nyenyak sekali ?" .Wanita itu kemudian menjawab :"Demi ALLAH! Saya akan membangunkan mereka sampai bener-benar bangun, jika mereka tidak bangun juga, saya akan menarik menyeret mereka sampai keluar dari rumah." Mufti kemudian menjawab :"Jika itu yang kamu akan lakukan untuk menyelamatkan anak-anakmu dari api dunia, lakukanlah hal yang sama untuk menyelamatkan mereka dari api neraka di akhirat kelak." Dari : Abuya As-Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki
AKIBAT SUKA SHOLAT DI UJUNG WAKTU
Para Malaikat menyeretnya melewati orang banyak, menuju ke arah api neraka yang menyambar-nyambar.
Dia menjerit sekuat tenaga dan bertanya-tanya barangkali ada orang yang mampu membantunya.
Dia menjerit lagi sambil menyebutkan semua kebaikan yang telah dia lakukan; bagaimana dia sering membantu orangtuanya. Bagaimana dia tidak pernah tertinggal puasanya, tidak pernah meninggalkan shalatnya, selalu bersedekah dan rajin membaca al-Quran.
Dia terus menjerit lagi, namun tidak ada seorangpun yang tampil membantunya.
Para malaikat terus menyeret dia. Dan … mereka semakin dekat dengan kawah api neraka.
Dia menoleh ke belakang dan ini harapannya yang terakhir. Dia teringat …
Tidak! Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Bagaimana bersihnya seseorang yang mandi di sungai lima kali sehari dari kotoran, begitu juga bersihnya orang yang melaksanakan shalat lima kali sehari dari dosa-dosa mereka”
Dia menjerit lagi sekuat tenaga:
“Solat saya? Solat saya? Doa saya?”
Kedua malaikat tidak berhenti, dan terus menyeretnya ke tepi jurang neraka. Kembang api neraka yang membubung terasa menyambar mukanya.
Dia menoleh ke belakang lagi, tapi matanya telah kering dari setiap harapan dan dia tidak memiliki apa-apa lagi yang tinggal di dalam dirinya.
Salah satu malaikat menolak dia dan memasukan ke kawah neraka.
Dia mandapati dirinya terus melayang dan akhirnya jatuh ke dalam kawah api neraka yang menjulang tinggi selama 70 tahun.
Setelah 70 tahun sengsara dibakar api, tiba-tiba terasa tangannya diraih oleh satu lengan.
Dia ditarik kembali ke atas.
Ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat seorang pria yang sangat tua dengan jenggot putih yang panjang memegang tangannya.
Pria itu kelihatannya sangat daif.
Sambil menyapu debu di tubuhnya dia bertanya pada pria tua itu:
“Siapakah anda?”
Orang tua itu menjawab: “Akulah sholat anda”
“Mengapa kamu begitu terlambat bantu saya? Wahai shalatku, saya telah terjerumus ke dalam api neraka selama 70 tahun! Kenapa setelah tubuh saya hangus dan hampir hancur baru kamu datang selamatkan saya ? kenapa …?.”
Orang tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berkata:
“Apakah kau lupa? Selama hidup di dunia dulu kamu selalu laksanakan saya pada saat-saat akhir !!”
“Setiap kali Maghrib kamu fokus pada sinetron tv dulu ..
“Dzuhur kamu lewat, kamu lebih mementingkan kerja daripada saya. Sholat ashar dan subuh juga selalu diujung waktu.
“Kamu ingatkah itu semua ??”
Penjelasan pria tua itu mengejutkannya dari tidur …
Dia terjaga dan mengangkat kepalanya dari tidur. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat ketakutan …
Ya Allah.. Aku mimpi…
Tapi seperti nyata ..
Ketika itu juga ia mendengar suara adzan di kumandangkan menandai masuknya waktu shalat ashar.
Dia bangun dengan cepat dan mengambil wudhu. Dia berjanji tidak akan melalaikan shalat lagi. Dia menyadari kesalahannya sekarang. Dia telah mendapat petunjuk yang maha benar.
Sebarkan kisah ini kepada keluarga dan kawan-kawan anda. Mungkin anda dapat membantu mereka agar mulai sekarang mau menunaikan sholat tepat waktu.
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak
Rasulullah S.A.W bersabda :”Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al-Bukhari)
Para Malaikat menyeretnya melewati orang banyak, menuju ke arah api neraka yang menyambar-nyambar.
Dia menjerit sekuat tenaga dan bertanya-tanya barangkali ada orang yang mampu membantunya.
Dia menjerit lagi sambil menyebutkan semua kebaikan yang telah dia lakukan; bagaimana dia sering membantu orangtuanya. Bagaimana dia tidak pernah tertinggal puasanya, tidak pernah meninggalkan shalatnya, selalu bersedekah dan rajin membaca al-Quran.
Dia terus menjerit lagi, namun tidak ada seorangpun yang tampil membantunya.
Para malaikat terus menyeret dia. Dan … mereka semakin dekat dengan kawah api neraka.
Dia menoleh ke belakang dan ini harapannya yang terakhir. Dia teringat …
Tidak! Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Bagaimana bersihnya seseorang yang mandi di sungai lima kali sehari dari kotoran, begitu juga bersihnya orang yang melaksanakan shalat lima kali sehari dari dosa-dosa mereka”
Dia menjerit lagi sekuat tenaga:
“Solat saya? Solat saya? Doa saya?”
Kedua malaikat tidak berhenti, dan terus menyeretnya ke tepi jurang neraka. Kembang api neraka yang membubung terasa menyambar mukanya.
Dia menoleh ke belakang lagi, tapi matanya telah kering dari setiap harapan dan dia tidak memiliki apa-apa lagi yang tinggal di dalam dirinya.
Salah satu malaikat menolak dia dan memasukan ke kawah neraka.
Dia mandapati dirinya terus melayang dan akhirnya jatuh ke dalam kawah api neraka yang menjulang tinggi selama 70 tahun.
Setelah 70 tahun sengsara dibakar api, tiba-tiba terasa tangannya diraih oleh satu lengan.
Dia ditarik kembali ke atas.
Ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat seorang pria yang sangat tua dengan jenggot putih yang panjang memegang tangannya.
Pria itu kelihatannya sangat daif.
Sambil menyapu debu di tubuhnya dia bertanya pada pria tua itu:
“Siapakah anda?”
Orang tua itu menjawab: “Akulah sholat anda”
“Mengapa kamu begitu terlambat bantu saya? Wahai shalatku, saya telah terjerumus ke dalam api neraka selama 70 tahun! Kenapa setelah tubuh saya hangus dan hampir hancur baru kamu datang selamatkan saya ? kenapa …?.”
Orang tua itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berkata:
“Apakah kau lupa? Selama hidup di dunia dulu kamu selalu laksanakan saya pada saat-saat akhir !!”
“Setiap kali Maghrib kamu fokus pada sinetron tv dulu ..
“Dzuhur kamu lewat, kamu lebih mementingkan kerja daripada saya. Sholat ashar dan subuh juga selalu diujung waktu.
“Kamu ingatkah itu semua ??”
Penjelasan pria tua itu mengejutkannya dari tidur …
Dia terjaga dan mengangkat kepalanya dari tidur. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat ketakutan …
Ya Allah.. Aku mimpi…
Tapi seperti nyata ..
Ketika itu juga ia mendengar suara adzan di kumandangkan menandai masuknya waktu shalat ashar.
Dia bangun dengan cepat dan mengambil wudhu. Dia berjanji tidak akan melalaikan shalat lagi. Dia menyadari kesalahannya sekarang. Dia telah mendapat petunjuk yang maha benar.
Sebarkan kisah ini kepada keluarga dan kawan-kawan anda. Mungkin anda dapat membantu mereka agar mulai sekarang mau menunaikan sholat tepat waktu.
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak
Rasulullah S.A.W bersabda :”Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al-Bukhari)
Ringkasan Syarah Hadits Arba'in (Hadits Ke-16)
JANGAN MARAH
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ
لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ
فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. رواه البخاري
Dari
Abu Hurairah rodhiyallohu ’anhu, ada
seorang laki-laki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, “Berilah
aku wasiat.” Rosululloh shollallohu
‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan marah!” Dia bertanya berulang-ulang dan
tetap dijawab, “Jangan Marah!” (HR Bukhori)
Status Hadits
dan Takhrijnya
Shahih:
HR. Al-Bukhari (no. 6116), dan Ahmad (II/362, 466).
Kedudukan Hadits
Hadits ini berisi tentang adab yang sangat penting.
Rahasia Di balik Jawaban Rasulullah
Rasulullah shollallohu ‘alaihi
wasallam berulang kali diminta wasiat atau nasihatnya oleh para sahabat.
Jawaban yang diberikan oleh Rasulullah berbeda-beda. Rahasia perbedaan jawaban
tersebut menurut ulama ada 2, yaitu:
1. Disesuaikan dengan keadaan orang yang bertanya. Artinya jawaban
Rasulullah shollallohu ‘alaihi
wasallam adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh orang yang bertanya
terkait dengan keadaannya.
2. Demi beragamnya wasiat yang sampai kepada umat. Maksudnya karena
setiap wasiat Rasulullah shollallohu
‘alaihi wasallam pasti akan ditularkan kepada yang lain, maka Rasulullah
meragamkan jawaban.
Jangan Marah
Perintah Rasulullah untuk tidak marah mengandung 2 penafsiran,
yaitu:
1. Maksudnya tahanlah marah, yaitu ketika ada sesuatu yang membuat marah
maka berusahalah untuk tidak melampiaskan kemarahannya.
2. Menghindarkan diri dari sebab-sebab yang mendatangkan kemarahan.
Terapi Ketika Menghadapi Kemarahan
Ada beberapa cara untuk terhindar dari melampiaskan kemarahan, di
antaranya:
1. Duduk, jika ketika marah dia dalam keadaan berdiri.
2. Mengucapkan kata-kata yang baik.
3. Berwudhu.
Jumat, 27 September 2019
Ringkasan Syarah Hadits Arba'in (Hadits Ke-15)
BERKATA YANG BAIK ATAU
DIAM
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى
اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ
الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. رواه البخاري ومسلـم
Dari
Abu Hurairoh rodhiyallohu ’anhu,
sesungguhnya Rosululloh shollallohu
‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh
dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa
yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan
tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah
ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Status Hadits
dan Takhrijnya
Shahih:
HR. Al-Bukhari (no. 6018, 6136, 6475), Muslim (no. 47), Ahmad (II/267, 433,
463), Abu Dawud (no. 5154), at-Tirmidzi (no. 2500), dan
selainnya.
Kedudukan Hadits
Hadits ini merupakan hadits yang penting dalam bidang adab. Makna
hadits ini telah tercakup di dalam hadits ke-12.
Hak Alloh Dan Hak Hamba
Pada hadits di atas menunjukkan ada 2 hak yang harus ditunaikan,
yaitu hak Alloh dan hak hamba. Penunaian hak Alloh porosnya ada pada senantiasa
merasa diawasi oleh Alloh. Di antara hak Alloh yang paling berat untuk
ditunaikan adalah penjagaan lisan. Adapun penunaian hak hamba, yaitu dengan
memuliakan orang lain.
Menjaga Lisan
Menjaga lisan bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan berkata baik
atau kalau tidak mampu maka diam. Dengan demikian diam kedudukannya lebih rendah
dari pada berkata baik, namun masih lebih baik dibandingkan dengan berkata yang
tidak baik.
Berkata baik terkait dengan 3 hal, seperti tersebut dalam surat
An-Nisa’: 114, yaitu perintah bershadaqoh, perintah kepada yang makruf atau
berkata yang membawa perbaikan pada manusia. Perkataan yang di luar ketiga hal
tersebut bukan termasuk kebaikan, namun hanya sesuatu yang mubah atau bahkan
suatu kejelekan. Pada menjaga lisan ada isyarat menjaga seluruh anggota badan
yang lain, karena menjaga lisan adalah yang paling berat.
Memuliakan Orang Lain
Memuliakan berarti melakukan tindakan yang terpuji yang bisa
mendatangkan kemuliaan bagi pelakunya. Dengan demikian memuliakan orang lain
adalah melakukan tindakan yang terpuji terkait dengan tuntutan orang
lain.
Batasan Tetangga dan Tamu
Tetangga menurut syariat adalah sesuai dengan pengertian adat,
artinya kapan secara adat dinilai sebagai tetangga maka dinilai sebagai tetangga
juga oleh syariat. Kaidah menyatakan semua istilah yang ada dalam syariat dan
tidak ada batasannya secara syariat dan bahasa maka pengertiannya dikembalikan
kepada adat.
Batasan tamu yang wajib diterima dan dilayani adalah jika dia tidak
memiliki kemampuan untuk mencari tempat untuk tinggal atau untuk makan. Jika
mampu maka hukumnya sunnah. Adapun batasan lamanya adalah 1 hari 1 malam,
sempurnanya 3 hari 3 malam.
Selasa, 24 September 2019
Peran Wanita Dalam Islam
1. Peranan Wanita dalam Mendidik Umat
Syauqi mengatakan “Ibu ibarat madrasah, jika
kau persiapkan maka sesungguhnya anda sedang menyiapkan bangsa (besar) yang
wangi keringatnya.”
Wanita adalah guru pertama bagi sang anak,
sebelum dididik orang lain. Sejak ruh ditiupkan ke dalam rahim, proses
pendidikan sudah dimulai. Sebab mulai saat itu, anak telah mampu menangkap
rangsangan-rangsangan yang dberikan oleh ibunya. Ia mampu mendengar dan
merasakan apa yang dirasakan ibunya. Bila ibunya sedih dan cemas, ia pun
merasakan demikian. Sebaliknya, bila ibunya merasa senang, ia pun turut
senang.
Kemudian bertambah hari, minggu dan bulan,
yang pada wakunya ia terlahir ke muka bumi. Dari enol hari, ia sudah berusaha
memahami apa yang diajarkan oleh seorang ibu. Bila seorang ibu membiasakan
anaknya dari kandungan sampai dewasa dengan adab-adab Islam, ia pun akan
terbiasa dengan hal itu. Tapi sebaliknya, bila ibu membiasakan dengan adab-adab
yang tidak Islami, ia pun akan ikut seperti ibunya. Saat inilah shibgah seorang
ibu sangat berpengaruh pada anak. Karena perkembangan otak sangat cepat. Daya
ingat masih kuat. Bagi seorang ibu perlu memperhatikan hal berikut :
2. Tarbiyah Ruhiyyah
2.1 Pendidikan Akidah
Bagaimana seorang ibu mampu menanamkan akidah
sedini mungkin, sehingga anak meyakini bahwa kita hidup tidak semau kita. Tapi
di sana ada pengatur, pengawas tujuan hidup, akhir dari kehidupan. Kemudian
meyakini bahwa apa yang terjadi pada kita, pasti akan kembali pada sang khalik.
Hal itu terangkum dalam rukun iman yang enam. Ketika ia besar, ia tidak lagi
ragu dan bingung mencari jati diri. Siapakah aku? untuk apa aku hidup? siapakah
yang harus aku ikuti dan dijadikan idola ? Dan seterusnya.
2.2 Pendidikan Ibadah
Ketika ibu menjalani kehamilan sampai
melahirkan, tidaklah berat baginya untuk mengajak si calon bayi untuk ikut serta
dalam melakukan ibadah harian. Seperi: sholat, puasa, membaca Alquran, berdoa,
berdzikir, dan lain sebagainya. Walau mungkin anak tidak paham apa yang
dilakukan dan diinginkan ibunya, tapi ketika ia menginjak dewasa (baligh), Insya
Allah ibadah-ibadah tadi akan mudah diajarkan. Sebab sudah sering melihat dan
mendengar, sehingga takkan terasa berat menjalaninya.
2.3 Pendidikan Akhlak
Pembiasaan akhlak yang baik tidak perlu
menunggu anak dewasa. Dari sini harus sudah dibiasakan. Sebab kebiasaan yang
baik, kalau tidak dibiasakan dalam waktu yang lama, sangat sulit untuk menjadi
akhlak. Justru ketika kebiasaan baik tidak ada dalam diri kita, dengan
sendirinya kebiasaan buruk akan menghiasinya tanpa harus dibiasakan.
Jika semenjak dalam kandungan seorang anak
dibiasakan mencintai orang lain, maka ketika lahir, ia pun akan berusaha untuk
mencintai orang lain. Apabila sfat-sifat sabar, tawadlu, itsar, tabah, pemurah,
suka menolong orang lain dan sebagainya dibiasakan, insya Allah ketika anak
sudah paham dan mengerti, akhlak-akhlak tadi akan menghiasi
kehidupannya.
Oleh sebab itu, Rasul menganjurkan kepada para
pemuda yang sudah waktunya nikah, untuk memilih calon istrinya seorang wanita
yang beragama dan berakhlak baik. Sebab dari wanita inilah, akan terlahir
generasi yang beragama dan berakhlak baik juga. Ibu seperti inilah yang akan
mengajarkan tuntunan agama yang telah terbiasa dan tertathbiq dalam dirinya. Di
antara tuntunan tersebut adalah akhlak yang mulia. Sedangkan wanita yang cantik,
pintar, atau kaya tidak menjamin akan melahirkan anak-anak yang berakhlak
mulia.
3. Tarbiyah Aqliyyah
Kata seorang penulis puisi, “Otak tidak diasah, akan tumpul”.
Pengasahan otak semenjak kecil akan lebih bagus, ketimbang jika sudah besar.
Bagai sebuah pisau, semakin lama waktu mengasahnya, maka akan semakin tajam.
Dalam nasyid juga disebutkan, “Belajar diwaktu kecil,
bagai mengukir di atas batu”. Tapi seorang ibu juga
harus bijaksana dalam hal ini. Jangan sembarangan dalam memberikan buku-buku
bacaan, untuk mengasah otak. Cukup banyak buku-buku yang ingin menghancurkan
generasi Islam.
4. Tarbiyah Jasadiyyah
Pendidikan inilah yang sering mendapat
perhatian dan jadi topik pembicaraan para ibu yang baru mempunyai anak.
Rangsangan-rangsangan ibu berupa olah-raga balita, sangat membantu anak dalam
perkembangan tubuhnya. Percepatan proses semenjak si anak tengkurap, merangkak,
jalan dan lari, tidak bisa dibiarkan sendiri. Namun bantuan ibu untuk melakuan
gerakan-gerakan itu sangatlah dibutuhkan anak. Karena pada hakikatnya, insting
yang dimiliki anak belum mampu menjangkau apa yang harus ia lakukan agar bisa
berbuat seperti orang dewasa. Contoh kecilnya, ketika lahir, Rasulullah menyuruh
para orang tua untuk mentahniq dengan memijat langit-langit mulut agar mampu
mengisap air susu ibunya. Olah raga atau tarbiyyah jasadiyyah ini tidak terbatas
pada usia balita, tapi bahkan sampai dewasa dan tua.
5. Peran Wanita dalam Mendampingi
Suami
Suami shaleh kebanyakan dibelakangnya ada
istri shalehah. Laki-laki dalam menjalankan tugasnya baik di dalam atau di luar
rumah sering mendapat kendala ujian dan cobaan. Kegoncangan jiwanya
kadang-kadang tidak mampu menngendalikannya sendiri. Nah, saat-saat seperti
inilah peran dan batuan istri sangat dibutuhkan. Istri yang shalehah selalu
memberi dorongan untuk terus maju memberi siraman ruhiyyah agar tetap semangat
dalam menapaki duri-duri jalanan, memberi bensin untuk tetap berjalan di atas
rel Islam. Ketika suami sedang panas tidak selayaknya istri mengompori, tapi
berusaha untuk meredam dan mendinginkan agar suami sadar dan sabar.
Banyak sekali suami terjerumus ke lembah hina
disebabkan istrinya tidak bisa membimbing ke arah yang baik. Juga tidak sedikit
suami dulunya kurang baik setelah beristri justru ia makin membaik. Oleh sebab
itu, wahai para ibu-ibu shalehah marilah kita dukung suami kita untuk menjadi
suami yang shaleh. Mencurahkan tenaga, pikiran, bahkan nyawa untuk tegaknya
Islam di muka bumi dengan tidak membebaninya dengan tugas-tugas rumah yang mana
pabila kita mengerjakannya dengan ikhlas, kita akan dapat pahala dan suami kita
semakin sayang pada kita.
Semangat di medan dakwah dan juang, marilah
kita berikan waktu seluas-luasnya pada suami kita untuk mencurahkan waktu
hidupnya untuk Islam tercinta. Istri selain sebagai motor bagi suami, ia juga
dibebani kewajiban-kewajiban terhadap suaminya agar tercipta keluarga-keluarga
yang sakinah, mawaddah warohmah. Karena dari keluarga inilah akan terbentuk
mujamaâ mitsaly dan dari mujtamaâ mujtamaâ ini akan terbentuk daulah
Islamiyyah.
Di antara kewajiban istri terhadap suami
adalah :
- Taat Suami
- Tidak keluar rumah tanpa idzin suami
- Tidak menjauhi tempat tidur suami
- Iffah
- Qona’ah dan ridlo dengan apa yang Allah berikan.
- Berhias dan memakai wangi-wangian
- Melaksanakan tugas-tugas rumah tangga
- Mendidik anak-anak
- Berlemah lembutdan berkata-kata manis.
Sembilan point ini bila kita mampu untuk
menjalankan semua, Insya Allah suami bahagia di rumah dan semangat di medan
dakwah. Wahai para ibu, jangalah engkau nyalakan api di keluargamu disebabkan
kelalaianmu atas kewajibanmu terhadap suami.
6. Peran Wanita dalam Menegakkan
Negara
6.1 Peran Wanita dalam Dakwah
Di samping wanita sebagai ibu rumah tangga dan
pendidik generasi, ia dalam satu waktu juga berperan sebagai pendidik para
pemudi-pemudi dan ibu-ibu. Di dalam rumah ia pendidik anak-anak, sedang di luar
rumah ia pendidik sebagian anggota masyarakat.
Jumlah wanita di dunia ini lebih banyak dari
pada jumlah laki-laki. Bila potensi ini tidak diarahkan dan dididik dengan baik,
ia akan menjadi penghancur masyarakat, negara bahkan dunia. Suatu masyarakat
dikatakan berhasil, bila wanitanya berakhlak mulia. Wanita bagaikan mahkota,
bila mahkota baik, maka seluruhnya akan kelihatan cantik dan bagus. Tapi bila
mahkotanya rusak, maka yang lainpun tidak ada artinya apa-apa.
Seorang wanita tidaklah cukup berkutat dalam
rumah saja sebagai IRT, karena para tunas bangsa dan agama telah menunggu uluran
tangannya. Apalagi pada saat ini, umat sedang mengalami penurunan akidah, moral
dan ibadah. Wanita tak segan-segan lagi melepas jilbabnya. Bahkan menanggalkan
pakaian muslimahnya, justru pakaian-pakaian barat, pakaian orang kafir yang
menjadi kebanggan mereka. Tidak malu-malu lagi wanita menggandeng, ngobrol,
pegang sana pegang sini dengan laki-laki bukan mahram. Pergi berduaan tanpa
merasa berdosa.
Berkhalwat dengan alasan urusan organisasi,
kantor dan sebagainya. Tidak sampai di situ saja, bahkan lebih dari itu. Oleh
sebab itu tugas kita adalah mentarbiyah diri kita, anak-anak dan seluruh lapisan
masyrakat, khususnya kaum wanita. Sedang kaum lelaki, akan dididik oleh para
suami dan pemuda-pemuda yang akan mentarbiyah mereka. Bahu membahu antara kita
dan suami akan menciptakan sebuah masyarakat Islami, yang pada akhirnya akan
menjadi sebuah negara Islam.
Adalah Ummu Syarik, setelah masuk Islam,
beliau mendakwahi wanita-wanita Qurasiy secara diam-diam dan mengajak mereka
menerima Islam. Zainab Al-Ghazali adalah di antara figur wanita modern penerus
Ummu Syarik. Meskipun wanita dibolehkan keluar rumah -khususnya berdakwah- namun
tetap ada batasan-batasan seputar pakaian:
- Pakaian harus menutup seluruh anggota tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan (dalam hal ini para ulama berbeda pendapat).
- Pakaian tidak menarik perhatian.
- Pakaian tidak sempit.
- Tidak pendek bagian bawahnya.
- Tidak beraroma minyak wangi.
- Tidak menyerupai pakaian laki-laki, karena Rasulullah melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki.
- Tidak memakai pakaian dengan maksud agar terkenal di antara manusia.
6.2 Peran Wanita dalam Peperangan dan
Jihad
Peperangan pada hakekatnya diwajibkan atas
laki-laki, kecuali pada waktu-waktu darurat. Tapi tidak menutup kemungkinan
perempuan ikut andil di dalamnya. Di antara perannya dalam hal ini adalah
memberikan minuman, mengobati yang luka-luka akibat perang, menyiapkan bekal dan
lain-lain. Bila para wanita melakukan hal ini dengan ikhlas, pahalanya sama
dengan orang yang berjihad.
Sejarah pun telah menuliskan dengan tinta
emas, peranan wanita dalam peperangan. Ketika perang Yarmuk, Khalid bin Walid
sebagai panglimanya menugaskan wanita, diantaranya Khansa`, untuk berbaris di
belakang barisan laki-laki, tapi jaraknya agak jauh sedikit. Tugas mereka adalah
menghalau prajurit laki-laki yang melarikan diri dari medan perang. Mereka
dibekali pedang, kayu dan batu. Shafiyah binti Abdul Muthalib juga pernah
membunuh seorang Yahudi pengintai. Dan banyak lagi contoh-contoh yang nyata yang
dapat menjadi suri tauladan bagi kita.
Langganan:
Postingan (Atom)












